KADO ULTAH Ke-70 EDY SUKARDI
Abah ESu yang Saya Kenal :
ISTILAH “ABAH” DAN “MUHAMMADIYAH”,
SAMA; DIAPIT TANDA PETIK
Oleh Noor Chozin Agham
(Anggota Madikdasmen PNF PP Muhammadiyah)
Dalam KBBI, kata “Abah” berasal dari multi-etnis, berbagai suku dan
daerah se-Enka RI dari Sabang hingga Merauke. Jauh beda dengan kata (istilah)
Muhammadiyah Kendati dalam judul tulisan
ini tadi dikatakan sama, tetapi sesungguhya sangat beda, beda jauh atau beda
banget . Istilah Muhammadiyah asli berasal dari nama seorang nabi yang asli, bukan
nabi palsu, yang pasti pula bukan nabi yang berijazah palsu. Ya, seorang Nabi yang dimaksud yaitu Nabi Muhammad
bin Abdullah, yakni Rasulullah Saw. Jadi, kesamaan kedua kata ini (Abah dan
Muhammadiyah), hanya sama-sama diapit (diberi) tanda petik; yakni tanda untuk
menunjukkan bahwa keduanya mempunyai arti khusus dalam konteks (ke-ESu-an) ini
Abah dalam Tanda Petik
Pengungkapan Istilah “Abah” tadi sebenarnya bukan hal baru di
Indonesia. Secara umum, ia merupakan kata sapaan yang berarti ayah atau bapak,
terutama dalam budaya Sunda dan beberapa daerah lain di Indonesia. Kata Abah ini
terasa membawa nuansa keakraban yang dibalut penghormatan, lebih hangat, akrab,
dan penuh penghormatan dibanding sekadar “Pak” atau “Bapak” Kemudian juga, kata Abah menjadi lebih
berwarna dan kian popular setelah tahu dan merata atau viral merujuk dan atau
dilabelkan pada para pendukung capres pasangan Anies-Muhaimin.
Jadi, kekhususan arti “abah” di
sini yaitu kata abah yang semula berkembang di wilayah domestik (keluara)
tertentu, kemudian merembet ke politik pilpres, menjadi “anak abah” sebagai julukan
khas dan branding, bagi dan untuk
pendukung AMIN (Anies-Muhaimin). Ironisnya, oleh para pendukung lawan politik,
terutama kubu Jokowi (baca Gibran) menuding bahwa istilah “anak abah” justru menjadikan
mereka tambah yakin bahwa Anies Rasyid Baswedan sebagai Capres yang telah dan
akan terus menyuburkan radikalisme Yaman (Arab) di Indonesia. Kebetulan, kalau
tak salah ingat, Pak Edy (sapaan saya banget untuk senior saya; Dr. H. Edy
Sukardi, M.Pd.) termasuk pendukung paslon AMIN; yang (sebenarnya) saya baru
tahu kalau ternyata Pak Edy juga berjuluk “Abah”, dan saya juga tidak yakin
kalau Abah yang ini (Pak Edy) terinspirasi karena sebagai pendukung Capres tadi
Saya menggunakan kata “Abah” dalam dan
untuk judul tulisan ini, ya, itu tadi, karena saya sendiri baru tahu langsung
dari Pak Edy saat me-WA saya terkait buku ini.
Muhammadiyah dalam Tanda Petik
Sedangkan kekhususan kata Muhammadiyah yang bertanda petik tadi, berangkat
dari apa yang dikatakan oleh Pak Edy sendiri, yang tergambar dalam salah satu
karya tulisnya (buku) yang judul Aku
Baru Tahu Kalau Aku Muhammadiyah – Kumpulan Puisi untuk Para Sahabat,
(Paedea, Jakarta, 2013). Secara pribadi, sebenarnya saya mengenal Pak Edy (Abah
Esu) dari dan sudah (dikenal di lingkungan) Muhammadiyah, tepatnya sejak Pak Edy
menjadi dosen saya di FPBS IKIP Muhammadiyah Jakarta akhir tahun 1986-an (kini
UHAMKA). Saat saya masuk (kuliah) di FPBS IKIP Muhammadiyah Jakarta itu, 2
tahun berikutnya (1989) saya mempersunting sekaligus menikah dengan Immawati
Lisdewi Muliati, mahasiswa Pak Edy 1988 (menikahinya) dan sejak itulah saya
merasa mulai dekat dengan Pak Edy melalui IMM Komisariat
FPBS. Berarti, hingga saat ini usia pengenalan saya dengan Pak Edy di
Muhammadiyah khususnya di Uhamka sudah kurang lebih 2026 dikurangi 1988 sama
dengan 38 tahun, hampir seusia anak sulung saya yang lahir 1991.
Tentu saja, banyak hal yang saya kenali dari diri pribadi Pak Edy.
Walau perkenalan saya dengan beliau diawali dengan status yang berbeda; saya
masih mahasiswa dan Pak Edy sebagai dosen (masih) muda, bahkan kala itu beliau (mungkin)
sudah punya jabatan di Dekanat FPBS dan dalam struktur kemahasiswaan beliau
aktif di Sema (senat mahasiswa, kini BEM) yang secara otomatis saya sering kerja
bareng IMM di IKIP MJ (Uhamka), yang kebetulan saya sendiri waktu itu sebagai
aktivis IMM di Cabang (Ciputat) dan Korkom IKIP MJ sekaligus punya jabatan
(tepatnya sebagai Ketua I) di DPD IMM DKI Jakarta periode 1984-1986, yang
kerenanya akan selalu berinteraksi dengan Pak Edy jika IMM sedang dan akan
berkegiatan di kampus IKIPM Jakarta.
Dari situlah, saya bernatijah bahwa perkenalan dan pengenalan saya dengan
Pak Edy lebih berat karena keterikatan dan kesamaan ideologis (dalam hal ini
Ideologi Muhammadiyah) melalui kampus (PTMA) yang di dalamnya ada IMM (Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah). Dengan kata lain, bahwa pengenalan di Muhammadiyah
melalui IMM-lah yang insya-Allah telah, sedang, dan akan kian menguat,
sekaligus kian memperbobot keberadaan Muhammadiyah di semua lapangan global.
Pak Edy ini, sejak saya kenal pertama kali (tahun 1980-an) hingga saat ini
masih berada di kampus PTMA dengan
posisi lengkap dan tuntas (puncak di PTM);
mulai dari mahasiswa, karyawan dekanat, hingga rektorat dan terakhir sebagai pensiunan
Uhamka kini Pak Edy dipercaya sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah dan
wilayah Bogor Raya (?).
Di samping pengenalan dengan beliau ini melalui aktivitas kampus PTMA,khususnya
IMM, ternyata juga di persyarikataan Muhammadiyah. Rupanya, jabatan Pak Edy di
Muhammadiyah dimulainya sejak dari ranting, cabang, daerah, wilayah, hingga di pusat.
Ranting dan cabang di Kebayoran Baru sebagai Ketua, , Daerah Jakarta Selatan (PDM)
sebagai Ketua, dan sebagai Wakil Ketua yang membidangi Madikdasmen, dan di
Pusat sebagai wakil Ketua LSB (Lembaga seni dan budaya, dulu LSBO; ada O-nya
yang berarti olahraga). Di Persyarikatan ini saya pun merasa bertambah dekat
dengan Pak Edy karena kebetulan saya juga aktif di UPP (unit Pembantu Pimpinan)
PP Muhammadiyah, di majelis dikdasmen, kini bertambah PNF atau jelasnya Majelis
Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Non Formal
Pengenalan saya dengan Pak Edy yang panjang itu tadi, terasa tidak
begitu kaget jika ada sapaan Abah untuk Pak Edy Hanya saja, karena saya baru dengar dan saya
merasa senang juga karena dengan begitu saya punya Abah baru selain yang saya
sinyalir di atas. Artinya, saya setuju Pak Edy disapa (dan ada yang menyapa
dengan) Abah ESu (Edy Sukardi). Ya, karena itu tadi, Abah, mempunyai makna yang
mendalam ke semua aspek kehidupan, bukan
sekadar sebagai grand father di lingkungan keluarga secara biologis
melainkan juga dapat dimaknai sebagai seorang senior di lingkungan persyarikatan
secara ideologis, yang berarti berkelayakan untuk disebut sebagai Ideolog
Muhammadiyah dalam aspek tertentu sesuai disiplin ilmu Pak Edy yaitu sebagai ahli (guru besar) Bahasa
Indonesia. Singkatnya, begitulah makna Abah
ESu yang saya pahami, yang sejujurnya bagi saya sendiri belum familiar
dan karenanya maaf, saya masih akan tetap menyapa beliau dengan sapaan formalistik
di lingkungan kampus yaitu Pak Edy, lengkapnya Bapak Prof. Dr. H. Edy
Sukardi, M.Pd.;
Pak Edy, yang pas pada tanggal 11 Mei 2026 menapak ke usia tujuh puluh
tahun, berarti telah melakukan perjalanan panjang yang sarat makna dalam menapaki
kehidupan dengan keteguhan langkah, mengabdikan diri pada jalan dakwah
Muhammadiyah, Pendidikan Muhammadiyah, dan pelestarian budaya Muhammadiyah Pak Edy, ideolog Muhammadiyah yang lahir dari
rahim tanah dan budaya Betawi yang tumbuh terpoles oleh dan dengan nilai
kearifan lokal Muhammadiyah Betawi yang kuat, yang menjunjung tinggi akhlak,
menjalin kebersamaan, serta menjaga harmoni dalam Kebermuhammadiyahan. Nilai-nilai
itulah (Kebermuhammadiyahan) yang saya yakini dapat mewarnai perjalanan panjang
Pak Edy sebagai aktifis senior Muhammadiyah. Semoga langkah-langkah ke depan
tetap diliputi semangat untuk terus menebar kebaikan, menerangi jalan dengan
ilmu, dan menjaga warisan nilai-nilai luhur.
Penutup
Terakhir, saya ingin tutup tulisan ini dengan puisi sebagai ucapan
selamat dengan judul :
70 Tahun Pak Edy
Tujuh puluh itu bukan angka biasa
adalah bait-bait panjang
adalah bait-baik lebar
adalah bait-bait tinggi
adalah bait-bait dalam
semua bait itu berisi naskah
yang ditulis waktu
di lembar kehidupan.
dari tanah Betawi
70 Tahun Pak Edy
adalah karunia,
sebuah perjalanan panjang
yang tak lepas dari kehendak-Nya
Setiap detik yang terlalui
adalah bagian dari takdir
yang ditulis dengan penuh hikmah,
Dalam rentang waktu yang penuh makna
70 Tahun Pak Edy
menanam kata di ladang taushiyah
tumbuh ia menjadi makna,
mengakar dalam jiwa-jiwa yang mencari cahaya.
Sebagai da’i,
Suara bukan sekadar seruan,
melainkan pelukan
bagi akal dan
hati yang ingin pulang.
70 tahun Pak Edy
Sebagai pendidik,
yang bukan hanya mengajar,
melainkan Tanwir
menyalakan pelita
agar ilmu tak sekadar diketahui,
tetapi juga dihidupi.
70 tahun Pak Edy
di ruang-ruang ilmu
berawal di UHAMKA
lalu di Universitas Muhammadiyah Bogor Raya,
jejak langkah menjadi arah,
bahwa belajar adalah jalan panjang
menuju peradaban, pencerahan
dan kebermajuan.
70 tahun Pak Edy
sebagai budayawan,
merawat kata-kata,
menjadikannya puisi—
tempat rasa dan hikmah bertemu,
tempat manusia kembali menjadi manusia.
70 tahun Pak Edy
Adalah bukan hilal dan senja yang meredup,
melainkan cahaya yang kian teduh,
menyinari tanpa menyilau,
menghangatkan tanpa membakar.
70 tahun Pak Edy
Waktu telah bersaksi,
bahwa hidup bukan tentang usia,
melainkan tentang arti.
maka pada hari ini,
kami membaca kembali
bukan dari kertas atau buku ini,
melainkan dari jejak langkah
70 tahun Pak Edy
Sebagai penulis
penjaga kata dan makna.
di hati semua,
di zaman ini, dan
di makeabadian yang sunyi
nanti.
eNCehA, 02052026
Komentar
Posting Komentar