SEJARAH TEOLOGI ATAU AKIDAH DALAM ISLAM
SEJARAH TEOLOGI
Oleh
Noor Chozin Agham[1]
Sudah terlalu banyak tokoh Islam
terkemuka yang – ketika membahas prihal ketuhanan – berkesimpulan akhir, bahwa
istilah teologi berasal dari Barat dan bahkan dari tetangga kita, Kristen.
Padahal, kalau kita berkesempatan secara serius menelaah historiografi
agama-agama besar di dunia, disertai dengan keseriusan mentarjih sejarah
kehidupan (biografi) manusia-manusia hebat yang hidup ribuan tahun sebelum
miladiyah, maka kesimpulan akhir tadi akan terlihat tidak bulat atau belum
valid. Niat baik untuk memilah-milah ilmu – mana Tauhid – mana Ilmu Kalam, mana
Ushuluddin dan mana Teologi – adalah niat yang
(menurut istilah ‘ulumul-Hadits) dha’if, gharib, maudhu’ dan atau palsu,
frekuensi rasionalitasnya rendah, serendah-rendahnya. Oleh karena itu, ada
baiknya kalau penulis mengajak warga Muhammadiyah khususnya dan umat Islam
umumnya untuk siap grak; segera balik kanan, memunggungi natijah
al-akhir tadi, lalu – bila perlu – kita buang.
Ya, kita buang saja. Pasalnya,
istilah teologi sebenarnya – secara filosofis-hermeneutis – dapat
difatwakan muncul bermula bukan dari Barat (Kristen), tetapi dari proses alamiah
pemikiran manusia untuk mencari, merumuskan dan menemukan Tuhan; kebenaran dan
kesucian-Nya, keesaan dan sifat-sifat-Nya. Kegiatan pemikiran manusia-manusia
serius seperti ini, sejarah mencatatnya terjadi sejak manusia ada di dunia,
yaitu sejak 4.000 tahun Sebelum Masehi (SM) dan yang aktif melakukannya pertama
kali yaitu bangsa Sumeria (wilayah Mesir, orang Timur). Wujud dari
pemikiran mereka ini ditandai dengan bangunan-bangunan indah dan menara-kuil
sebagai pusat pembangkit spiritualitas. Tetapi memang, belum ditemukan siapa
nama tokoh arsitek, desainer dan pimpro-nya. Sejarah hanya bilang bangsa
Sumeria, itu saja.
Kemudian sekitar tahun 2000-an
setelahnya (masih sebelum masehi), bangsa Sumeria tadi entah ke mana,
hilang begitu saja. Menurut catatan sejarah, bangsa Amorit yang
menguasai peradaban Sumeria tersebut, sekitar tahun 2000 SM. dan mereka
menjadikan Babilonia sebagai Ibukota. Pada masa inilah Abram
lahir (2166 – 1991 SM), yang oleh kita (umat Islam) disebut sebagai Nabi
Ibrahim a.s., yang dalam sejarah – seperti yang akan disebutkan di bawah –
menjadi Bapak semua agama[2].
Berikutnya tahun 1500-an SM sampai tahun 700-an (abad ke-8 SM), bangsa Asyur
menguasai Babilonia, selama berabad-abad, sampai kemudian Babilonia terkenal
sebagai kota Parde atau kota Para Dewa yang disebut juga Tasur
atau Kota Surga. Ilmu-ilmu yang berkaitan dengan pemikiran, filsafat
yang berhubungan dengan keyakina spiritual pada abad ini (1500 – 700 SM)
disebut mitos atau mitologi. Yang puncaknya terjadi pada abad
ke-7 SM.[3]
Perkembangan berikutnya, sekitar
pertengahan abad kelima dan keempat Qablalmiladi, di belahan sejarah
dunia lain muncul bangsa Yunani Kuno, ditandai dengan ketenaran filosof
Sokrates (470 – 399 SM), Plato (427 – 347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM),
Ketiga filosof ini, dunia pun mengakui ibarat trinitas dalam segala
filsafat dan ilmu yang terus berkembang sampai kini dan nanti. Konon, ketiga buyut
filosof dunia ini, selama hidupnya terus-menerus disibukkan dengan
persoalan-persoalan epistimologi dan hakekat kebijaksanaan, yang – untuk
masa sekarang – tak bisa lepas dengan persoalan teologis.[4] Plato misalnya, dia percaya betul bahwa alam semesta pada
dasarnya adalah rasional yang dilindungi eksistensi realitas yang suci dan tak
berubah, yang melampaui dunia indrawi, bahwa jiwa adalah sepenggal keilahian
(ketuhanan), unsur yang terlepas darinya, terpenjara dalam tubuh, tetapi masih
mampu meraih status keilahiannya dengan cara penyucian daya nalar (kekuatan
berpikir]. Dalam mitos gua yang populer, Plato melukiskan kegelapan dan
keburaman kehidupan manusia di bumi; manusia hanya mampu melihat bayang-bayang
realitas abadi yang terpantul di dinding terowongan buntu (gua), yang lambat
laun manusia mampu keluar lalu mencapai pencerahan dan pembebasan dengan
melatih pikirannya memperoleh cahaya ilahi.
Pada
akhir hayatnya, Plato mungkin telah meninggalkan doktrinnya tentang
bentuk-bentuk atau ide-ide abadi, tetapi gagasan ini justru menjadi krusial
bagi banyak monoteis ketika mereka berupaya mengungkapkan konsepsi ketuhanan
mereka.[5]
Jadi memang, para filosof Yunani kuno
dahulu, selama berfilsafat telah melahirkan banyak isme atau aliran dalam
filsafat, dan dari semua aliran dalam filsafat itu kemudian melahirkan aneka
metode yang kita kenal sekarang. Misalnya metode kritis, logika atau
berfilsafat secara kritis dan logis. Metode ini dilahirkan oleh Sokrates, Plato
dan Aristoteles sebelum masehi, di mana Sokrates sendiri hidup antara
tahun 470 – 399 SM., Plato hidup pada tahun 427 – 347 SM, dan Aristoteles hidup pada tahun 384-322 SM. Di antara aliran yang ada kaitannya dengan keilahian (Ketuhanan)
yaitu mitologi tadi, dan dari mitologi ini terus berproses sampai
kemudian lahirlah filsafat theosophia, kemudian berproses menjadi theoria lalu berproses lagi menjadi Theologike. Ketiga theo ini
(theosophia, theoria dan theologike) tidak hanya dikonsep melalui logika semata
tetapi merupakan intuisi yang terlatih, hingga dapat menghasilkan transendensi
diri dan ekstatik[6] yang berujung pada lahirnya filsafat logos.
Filosof Aristoteles,
adalah orang yang menggunakan istilah theologike (theo dan logika, bukan
teologi), dia membagi filsafatnya tentang teoretis ke dalam mathematice,
phusike dan theologike. Namun, yang dimaksud theologike
oleh Aristoteles dianalogkan dengan metafisika, yang bagi Aristoteles mencakup
pembahasan mengenai hakikat yang ilahi. Sampai di sinilah kemudian muncul
filsafat logos tadi.
Contoh lain, yaitu metode-metode yang
dilahirkan para filosof sesudah Masehi, seperti metode intuitif, dilahir-kembangkan
oleh Plotinus (pewaris filsafat Plato) pada abad ke-3 Masehi, di mana
Plotinus sendiri hidup antara tahun 205 – 270 M. Kemudian sebagai pelanjut
metode intuitif di abad kebangkitan atau abad moderen, antara lain Henri
Bergson, di mana Bergson hidup pada tahun 1859 – 1941 M., dan banyak lagi
metode dan tokoh yang lainnya[7]. Para filosof tersebut, baik yang hidup sebelum atau
sesudah masehi, dalam merumuskan metode filsafatnya senantiasa diawali oleh
keseriusan mereka dalam memikirkan segala hal yang berhubungan dengan hakekat
Tuhan dan atau hakekat penciptaan diri mereka (manusia) sendiri,[8] termasuk merenung-pikirkan dengan apa mereka beragama dan
mengembangkan serta mengekspresikan inti keyakinannya, yang pada gilirannya
berarti diri mereka berada dalam proses pemikiran teologis, mikir terus mencari
Tuhan.
Sedangkan secara praktis, sejatinya
proses pencarian Tuhan telah pernah terjadi dalam sejarah kenabian. Kalau kita
tilik ke dalam sana (sejarah kenabian), telah tergambarkan kepada kita tentang
kisah Nabi Ibrahim a.s. saat masih usia remaja. Ketika itu, setiap kali Ibrahim
kecil memperhatikan bahkan membantu orangtuanya membuat arca (patung), lalu hasilnya dijual untuk kemudian oleh
konsumen patung tersebut dijadikan sebagai tuhan, disembah-sembah dan
diagung-agungkan, maka Ibrahim pun lama kelamaan tampak jenuh bahkan gelisah.
Sebagai tanda protes, Ibrahim kemudian mengembara mencari tuhan yang
diyakininya lebih moderen dan lebih rasional daripada tuhan yang berupa patung
bikinan orangtuanya[9].
Kisah Ibrahim (mencari Tuhan)
tersebut, melahirkan interpretasi bahwa secara fitri manusia berkeniscayaan
membutuhkan sekaligus memiliki dan meyakini Tuhan. Bedanya dengan atheis, bahwa
Nabi Ibrahim a.s. telah berhasil menemukan Tuhan dengan penuh keyakinan,
sedangkan atheis belum berhasil, Jadi, orang atheis yang dimaksud di atas
sesungguhnya bukan tidak bertuhan melainkan karena sampai akhir hayatnya belum
menemukan Tuhan sebagaimana Nabi Ibrahim a.s. Dengan kata lain, bahwa Nabi
Ibrahim adalah seorang teolog murni dan pertama dalam sejarah pencarian Tuhan
tetapi ironisnya beliau luput dari kajian teolog moderen. Padahal, kisah
pencarian Tuhan yang dilakukan Ibrahim a.s., tersebut sesungguhnya termasuk
kasus atau peristiwa teologis yang selayaknya menjadi pelajaran bagi atheis
atau bagi mereka yang tidak mengakui adanya Tuhan.
Dengan kata lain pula, bahwa para
ahli teologi moderen, melihat sejarah kelahiran dan perkembangan teologi tidak
pernah merujuk pada kisah Nabi Ibrahim tersebut, melainkan mereka lebih suka
melihat teologi dari embrio bahasanya yang konon berasal dari para filosof
Yunani, mulai dari Socrates, Plato dan Aristoteles yang hidup
jauh sebelum Nabi Isa a.s. dan atau sebelum kaum Nasrani lahir. Padahal
sesungguhnya para filosof Yunani itu pun sebenarnya diniscayakan tidak bisa
lepas dengan sejarah kenabian, dalam hal ini khususnya Ibrahim, yang dalam
literatur mereka ada yang menyebutnya Abram dan ada pula yang
menyebutnya dengan Abraham. Karena memang Nabi Ibrahim ini, dalam
persepsi yang berbeda sekalipun tetapi semua komunitas Yahudi, Nasrani dan
Muslim mengakui sebagai Bapak seluruh umat manusia Yahudi, Nasrani dan Muslim.[10]
Dalam perkembangan berikutnya, hampir seluruh filosof
Muslim seperti Al-Kindi, al-Razi, al-Farabi, Ibnu Sina dan terutama Ibu Rusyd,
yang hidup pada masa Daulah Abbasiyah telah mengadobsi atau setidaknya
mempelajari filsafat Yunani tersebut,[11] yang dengan demikian berarti menunjukkan, bahwa
istilah-istilah seperti theosophie,
theoria, dan theologike telah membaur dengan pemikiran kalam yang
muncul dalam komunitas Muslim sejak abad ke-9, yakni masa Abbasiyah di bawah pemerintahan
Khalifah al-Makmun (813-833 M.) dan pemerintahan al-Mu’tasim (833-842 M.)[12], diperkirakan 2 abad sesudah Hijrah Rasulullah Saw.[13] Diketahui, bahwa pada masa dinasti Abbasiyah inilah yang
memang terjadinya penerjemahan buku-buku filsafat Yunani terus digenjot dan
digenjot.
Sementara itu, istilah teologi tersebut masuk dalam
doktrin Nasrani sebenarnya yaitu setelah kaum Salibis menaklukkan kaum Muslimin
melalui Perang Salib yang berhasil merebut dan mengalahkan Dinasti Abbasiyah
pada sekitar abad ke-13 (1250 M.). Sebelum itu, istilah yang mereka miliki
adalah logos, bukan teologi, sekali lagi bukan teologi.
Kalaupun ada penyebutan istilah teologi yang kta dengar sekarang, itu
pada dasarnya hanyalah istilah yang dimunculkan oleh para sejarawan mereka atau
oleh para penulis belakangan. Itu karena istilah logos memang hampir
sama artinya dengan teologi. Sedangkan istilah logos ini sebenarnya
juga, masuk ke dunia Kristen terjadi sekitar 4 abad sesudah Nabi Isa a.s.
(agama Nasrani) lahir, atau abad ke-4 Masehi. Jelasnya, pada abad ke-4, kaum
Nasrani orang Kristen saat itu belum menggunakan bahkan tidak mengenal istilah
teologi, kecuali theologike Aristoteles. Istilah yang mereka
gunakan adalah logos, yang tercatat dalam sejarah Kristen – munculnya
istilah logos – bersamaan dengan munculnya Constantine, Kaisar
Pertama di Roma pada abad ke-4 sesudah Masehi,[14] yang sampai sekarang menjadi kiblat dan panduan mereka.
Sebelum itu, ajaran mereka tidak mengenal istilah logos apalagi teologi,
melainkan hanya akrab dengan istilah mitologi, theosophie dan theoria
yang antara lain dikembangkan oleh Arius dan Athonius, dua
tokoh Kristian yang terus-menerus tawuran dan Constantine berhasil
meredam dan menyatukannya.
Tidak lama kemudian logos Nasrani itu pun ambrol
atau ludes, menghilang bersamaan dengan hancurnya kemaharajaan Romawi
tersebut lantaran dilindas tak ada ma’af oleh Yang Chien (Kaisar
China Sui Wen Ti) akhir abad ke-6 (588 M.).[15] Teologi Kong
Hu-Cu yang lahir duluan, yaitu pada abad ke-5 SM (sebelum masehi) pun mulai
tampak kembali mantap, kemudian bangkit mengisi lembaran sejarah dunia sesudah
masehi, sekaligus menenggelamkan kedigdayaan logos Romawi (Nasrani) dan
sekaligus pula sejarah Logos Kristen pun habis (hampir) tak tersisa.
Baru kemudian pada sekitar abad ke-11 dan abad ke-13, kaum
Nasrani di kawasan Roma mulai ikut-ikutan bangkit, terutama setelah
mereka berhasil merebut Bagdad atau meluluhlantakkan Dinasti Abbasiyah tahun
1250 M. Buku-buku tentang ilmu pengetahuan dan filsafat yang sudah
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh para penerjemah Abbasiyah yang tidak
semuanya beragama Islam, diterjemahkan ulang ke dalam bahasa mereka (Inggris,
Pransicis, Spanyol dll.) bersamaan dengan perkembangan pemikiran filosof Thomas
Aquinas (1225 – 1247 M.) yang memang Nasrani totok.[16] Dari sinilah mereka temukan istilah Ilmu Kalam,
Ushuluddin yang diterjemahkannya dengan teologi.
Para
penulis Barat pada abad pertengahan (mulai abad abad ke-11 Masehi), yang
bekerja dengan kerangka Helenistik, mulai menggunakan istilah teologi ini untuk
menggambarkan studi mereka. Padahal, kata teologi tak pernah ada dalam beberapa
naskah asli Alkitab (Injil). Kalaupun ada dalam judul Kitab Wahyu: apokalupsis
ioannou tou theologou', ternyata hanya merupakan penyataan Yohanes sang theologos. Ini pun bukan dalam
pengertian teolog bahasa kita sekarang, melainkan – dengan menggunakan
arti akar kata logos yang berarti firman atau pesan.
Dengan demikian, Yohanes, sebagai sang theologos, maksudnya sebagai orang yang
menyampaikan firman Allah - ''logoi tou theou''.
Jadi, sejarah membuktikan, para
teolog Nasrani yang sekaligus filosof dan biarawan, pendeta, pastor atau apalah
istilahnya, mereka bermunculan pada abad-abad belakangan, khususnya setelah
filsafat Logos dianggap sudah mati oleh para filosof mereka sendiri.[17] Jadi, sesungguhnya istilah teologi dilihat dari
proses dan waktu pemunculan istilah-istilah di atas (theoshofi, theoria dan
theologike) murni berasal dari khazanah pemikiran Islam (Ilmu Kalam, Ilmu
Tauhid dan atau Ushuluddin) yang berkembang saat Dinasti Abbasiyah, kemudian
mereka adobsi menjadi teologi (theology) menggantikan istilah Logos
yang sudah habis dalam perkembangan pemikiran selanjutnya[18]. Dan lahirnya Ilmu Kalam itu sendiri, antara lain
terinspirasi oleh filsafat theosophia, theoria dan theologike yang
berkembang dalam dunia filsafat Yunani. Karena itu, istilah teologi pada
dasarnya sama dengan (dan memang berasal dari terjemahan kata) Ilmu Kalam.
Selanjutnya, perlu dicatat, sekali
lagi perlu dicatat, bahwa kata logi berbeda dengan logos. Dalam
istilah harian yang sering kita jumpai, logi memang berarti ilmu.
Munculnya istilah-istilah seperti ekologi, sosiologi, biologi,
arkeologi, teknologi dan sebagainya, memberi penegasan bahwa logi
berarti ilmu, berbeda dengan logos. Istilah yang terakhir ini (logos)
memang muncul dari para filosof Gereja, yang di dalamnya sudah mengandung makna
Tuhan. Dalam konteks ini, Karen
Amstrong, menulis begini :
... pada akhir abad kedua, beberapa orang pagan ...
mulai beralih ke agama Kristen dan mampu mengadabtasikan Tuhan Smitik Alkitab
dengan ideal Yunani-Romawi. Salah satu di antara mereka adalah Clement dari
Aleksandria (150 – 215 M.) ...
Namun,
Clement juga percaya bahwa Yesus adalah Tuhan... Jika orang Kristen meneladani
Kristus, mereka juga akan menjadi seperti Tuhan... Sesungguhnya, Kristus adalah
logos suci yang telah menjadi manusia... Di Barat, Irenaeus, Uskup Lyons
(130 – 200 M.), telah mengajarkan doktrin yang serupa. Yesus adalah inkarnasi logos,
akal ilahi[19]. Selanjutnya, Karen menulis : Teologi Clement
menyisakan beberapa pertanyaan krusial yang tak terjawab. (Misalnya – pen.)
Bagaimana mungkin seorang manusia biasa bisa menjadi logos atau akal
ilahi?... [20]
Dan masih banyak lagi pertanyaan dan
uraian yang jelas-jelas meragukan konsep logos pada abad pertama, kedua
dan seterusnya sampai abad ke-11.
Sementara itu, dalam sejarah
peradaban atau pemikiran Islam, seperti disebutkan di atas, bahwa ketiga ilmu
tadi (ilmu kalam, Ilmu Tauhid atau ilmu ushuluddin) lahir dan
dikembangkan sejak (dan oleh) Dinasti Abbasiyah pada masa kekhalifahan
Al-Makmun (813 – 833 M.)[21]. Identifikasi ketiga istilah tersebut dengan teologi,
konon pertama kali diperkenalkan antara lain oleh Ibnu Rusyd (1126 – 1198 M.)
dalam menerjemahkan kata theoshofi, theoria dan theologike yang
ada dan berkembang melalui buku-buku filsafat Yunani pada masa dinasti
Abbasiyah[22]. Dua kata theologike dan logos di sini memang
muradhif (berkesamaan) dengan ushuluddin, tauhid dan atau ilmu
kalam, yang memperbincangkan pokok-pokok ajaran Islam terutama yang
berhubungan dengan upaya meyakinkan keesaan Tuhan Allah Swt.[23], mulai dari wujud-Nya, sifat-sifat-Nya, hak dan
wewenang-Nya, dan lain-lain khususnya yang bertalian dengan bukti-bukti ke-Esaan-Nya.
Dari gambaran di atas, jelaslah
kiranya, bahwa yang benar-benar berasal dari Barat (Kristen) adalah bukan Teologi
melainkan Logos (yang sudah bermakna Keilahian/Ketuhanan, akal ilahi). Istilah
logos ini, dalam perkembangan selanjutnya, setelah terjadi sekian abad
lamanya, mereka (Nasrani) tidak lagi menggunakan istilah Logos melainkan
dengan istilah Teologi. Dari sinilah kemudian berkembang ada Teologi Kisten (=
Logos), Teologi Islam (= Tauhid) dan sebagainya.
Kemudian pada abad ke-16, Martin
Luther (1483-1546 M.) seorang filosof Narasni telah menyempurnakan rumusan Logos
atau teologi Nasrani[24], yang pada masa berikutnya, yaitu sekitar abad ke-19 dan
ke-20 gerakan teologi missionaris tersebut dikukuhkan, mulai intensif,
bahkan agressif, mereka menyebutnya dengan era renaissance (kebangunan)
Eropa moderen, dan Sidang Dewan Gereja pertengahan abad ke-20 atau sekitar
tahun 1960-an digelar untuk meneguhkan dan menjadikannya sebagai rumusan
final untuk dijadikan panduan di kalangan umat Kristiani [25].
Gambaran singkat historis prihal Teologi
Gereja tersebut, tampaknya kalau kita tengok sejarah peradaban dan teologi
dalam umat manusia (secara umum), akan muncul dan terlihat jelas, bahwa teologi
gereja (=Logos) sesungguhnya hampir-hampir tidak sah dijadikan sebagai
rujukan ketangguhan teologi karena memang sangat rapuh, lumpuh dan mudah jatuh.
Teologi gereja baru sembuh setelah berabad-abad lamanya (lebih kurang 6 abad)
kehilangan pengaruh. Bisa dikatakan, bahwa lahirnya kembali teologi mereka
sepanjang abad ke-11 dan ke-13 masehi menunjukkan tidak ada teologi Nasrani di
permukaan bumi sebelum abad ke-11. Yang ada di dunia mereka adalah Logos.
yang kemudian belakakangan oleh mereka sendiri dianalogkan dengan Teologi
Gereja setelah terinspirasi oleh Tauhid, Ilmu Kalam dan atau Ushuluddin yang
diterjemahkan dengan dan menjadi Teologi.
Kemudian seperti diketahui, Teologi
Nasrani yang berkembang saat ini oleh mereka didefinisikan sebagai
keseluruhan adikudrati (keimanan) yang objektif lagi kritis dan yang
disusun secara metodis, sistematis dan koheren[26], yang dalam penjabaran dan pengamalannya bertitik-tolak
dari 4 (empat) hal, yaitu : (1) dasar, yang dikategorikan sebagai wahyu,
(2) tafsir, berupa kitab suci perjanjian lama dan perjanjian baru, (3) praksis,
yaitu berupa moral, intuisi, artistik dan mistik, dan (4) dogma, berupa
trinitas[27]. Teologi Kristen ini, bertujuan pula untuk memahami
kebenaran Yesus Kristus serta mengungkapkannya bagi Gereja dan dunia[28] Dalam pengertian
lain, teologi bagi Kristen adalah upaya untuk merumuskan penghayatan iman
Kristiani pada konteks ruang dan waktu[29], lalu muncullah di kalangan mereka (Kristiani) apa yang
disebut dengan teologi kontekstual, yang dipopulerkan oleh para
misionaris Asia yang mencari jalan-jalan baru dalam memahami masalah dalam
hidup mereka dalam terang firman Tuhan[30]. Menurut Nasr, bahwa teologi dalam pandangan mereka
(Nasrani) tidak hanya berupaya menyediakan suatu pembelaan logika rasional
terhadap keimanan, melainkan juga berupaya untuk menyediakan akses (hubungan)
menuju realitas tertinggi kehidupan spiritual memalalui intuisi, artistik dan
mistik yang dikembangkan melalui filsafat Martin Luther,[31] pada abad ke-16 (Martin Luther hidup pada tahun 1483-1546).
Jadi, bagaimanapun dalam dan
rasionalnya teologi Kristen, semuanya secara historis dirumuskan berkembang
sekitar abad ke-11 dan ke-13 tadi, kalau kita analisis lebih dalam lagi dengan
apa yang terjadi dan dialami dunia Islam pada abad-abad tersebut (abad ke-11 –
13), tampaknya bisa difatwakan, bahwa teologi Kristen tidak akan lahir dan
berkembang jika Jengis Khan dan sekutunya tidak merampok dan
membombandir Baghdad (Istana Dinasti Abbasiyah) yang sebagai pusat peradaban
Islam kala itu. Seperti disebutkan di atas, Baghdad saat itu telah menjadi
pusat segala ilmu, termasuk ilmu kalam (ushuluddin atau tauhid) yang sudah
bermesraan dengan filsafat Yunani yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa
Arab, termasuk masalah peristilahan teologis. Lalu lantaran kebengisan dan
kesadisan Jengis Khan itulah yang membikin hampir seluruh peradaban
intelektual ke-Islaman yang berkaitan dengan keilmuan (terutama filsafat Yunani
yang sudah dibahasa-Arabkan) semuanya dirampas, manusia dan harta bendanya
diberangus, dibakar habis, begitu kejamnya teolog-teolog Nasrani kala itu lebih
dikenal dengan Perang Salib (penamaan dari kalangan Muslim) atau Perang Sabil
(menurut versi Nasrani).
Sampai sekarang istilah teologi
tersebut, makna yang sudah termasyhur di
kalangan masyarakat Muslim terdidik, yaitu identik dengan tiga term Arab
(ilmu kalam, ilmu ushuluddin dan ilmu tauhid). Selanjutnya, untuk
di Indonesia misalnya, ketiga term tersebut secara (agak) tuntas, semuanya
dilazimkan sudah mereka (masyarakat terdidik) pelajari saat masih berkuliah di
S-1 dulu, terutama bagi mereka yang saat es satu tersebut mengambil
fakultas atau jurusan Agama Islam atau di Universitas Islam Negeri (UIN).
Pasalnya, karena di sanalah kampus tempat mereka bertransaksi; membeli dan
menjual aneka info seputar teologi Islam
dengan sajian referensi buku wajib (antara lain:) Teologi Islam :
Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan karya almarhum Prof. Dr. H.
Harun Nasution, Rahimahullah.
Dari dan dalam buku referensi
tersebut (misalnya), asal-usul kata, pengertian dan atau deskripsi tentang
teologi bisa ditemukan. Kesimpulannya, ia berasal dari kata theo yang
berarti Tuhan, dan logi ( = logic, logika yang berarti ilmu
mantiq, bukan logos). Diindonesiakan menjadi teologi yang
berarti ilmu ketuhanan. Sebagai
ilmu Ketuhanan, teologi berarti membahas dasar-dasar agama tertentu, misalnya
ada teologi Islam, ada teologi Kristen, ada teologi Yahudi, ada teologi Budha,
ada teologi Kong Hu-Cu dan sebagainya[32]. Dapat juga didefinisikan, bahwa teologi sebagai suatu
wacana; dengan apa manusia atau kita beragama mengembangkan dan mengekspresikan
inti keyakinan sebagaimana yang manusia atau kita anut[33].
Sebagai ilmu yang mempunyai obyek
bahasan tentang ketuhanan, maka teologi sesungguhnya merupakan ilmu yang tidak
bisa dilepaskan dari fitrah manusia yang secara sosiologis dan historis
senantiasa mengiringi kebutuhan dasar manusia, termasuk yang dikategorikan
manusia atheis. Yang terakhir ini (manusia atheis), sesungguhnya secara
filosofis pada hahekatnya juga telah bertuhan (memiliki Tuhan), tetapi mereka
kurang bisa merumuskan bukti-bukti keberadaan-Nya. Yang mereka temukan dan
menjadi keyakinannya, adalah benda-benda yang dikramatkan, di-Dewa-kan,
di-Nirwana-kan, di-Yahweh-kan atau di-Elia-kan dan di-Yesus-kan.
Jadi, pada dasarnya manusia atheis benar-benar berada pada (dalam) proses
pencarian Tuhan yang sesungguhnya.
Kemudian ketika pendidikan dan atau
peradaban Islam bangkit ulang pada penghujung abad ke-18 atau awal abad ke-19,
istilah teologi pun diserap kembali secara sempurna oleh para teolog Islam
dengan tetap menyamakannya dengan ilmu Tauhid, Ilmu Kalam atau Ilmu Ushuluddin.
Tokoh pertama yang mengupas-tuntas-tas teologi Islam ke dalam dunia pendidikan
adalah Syeikh Muhammad Abduh[34]. Walaupun istilah yang digunakan Abduh yaitu Tauhid,
tetapi karena memang menggunakan bahasa Arab dan karena luasnya kajian tauhid
yang dikedepankannya, maka istilah tauhid diterjemahkan dan disesuaikan dengan
perkembangan pemikiran saat itu, yaitu dengan Teologi Islam. Ini terbukti dari
banyaknya tokoh Islam menyebut Muhammad Abduh sebagai seorang teolog[35]. Bukunya yang berjudul Risalah Tauhid, dalam
konteks ini tampaknya lebih tepat bila diterjemahkan dengan Kajian Teologi
Islam.
Dengan dan dari sekilas memperhatikan
perjalanan istilah teologi tersebut di atas, tampaknya istilah teologi Islam
menurut hemat penulis tidak perlu dipermasalahkan atau dipertentangkan dengan
Ilmu Kalam, Ushuluddin dan apalagi dengan Tauhid, dan tidak ada klaim sejarah
yang menyebutkan bahwa teologi milik agama tertentu. Tidak, tidak ada.
Jadi, sekali lagi, bahwa teologi
adalah milik sejarah perkembangan kemanusiaan yang secara alami diawali oleh
sejak adanya manusia cerdas di muka bumi, mulai dari bangsa Sumeria
(Mesir, Timur) sampai ke bangsa Yunani kuno (sebelum Nasrani, Barat) dan –
karena alami tadi – tentu tak berhak diklaim oleh agama tertentu. Namun,
kalaupun ada klaim, seharusnya dilakukan oleh para pengikut Nabi Ibrahim a.s.
yang memang – seperti disinggung di atas – telah dengan tegar mencari kebenaran
Tuhan yang secara gamblang dikisahkan dalam al-Qur’an. Dari sini, berarti Islam
(yang dibawa Ibrahim a.s.) yang menjadi embrio kelahiran teologi dalam sejarah
peradaban dan atau pemikiran umat manusia.
Dengan penegasan lain, bahwa teologi
itu lahir bukan oleh ajaran agama Nasrani, sebaliknya teologi lahir oleh proses
alamiyah sejak manusia ada di bumi, yang ketepata para filosof Yunani
(pra-Nasrani) yang tercatat dalam beberapa literatur historis, dan yang
berupaya menciptakan atau merumuskan agama atau ajarannya masing-masing,
sehingga pada masa-masa awal perkembangannya – bahkan masih ada sampai sekarang
– teologi inilah yang melahirnya berbagai jenis agama duniawi atau isme-isme
yang terkadang bertentangan dengan prinsip-prinsip beragama. Islam datang,
menurut Hussein Nasr muncullah teologi Islam, yaitu teologi yang bertanggung
jawab terhadap pembentukan keyakinan (keimanan) dengan memberikan bukti-bukti
rasionalitas dan melenyapkan berbagai keraguan[36]. Bisa jadi, suatu saat nanti, entah abad keberapa,
teologi-teologi yang berkembang dan bahkan maju sekarang ini, termasuk teologi
Nasrani, akan rapuh dan beralih pada teologi Islam. Insya-Allah.
Ya, Insya-Allah demikian, sebab
teologi Islam – dari yang diungkapkan Hussein Nasr tersebut – dapat dipahami
sebagai teologi yang berfungsi untuk menyelamatkan atau meluruskan
teologi-teologi yang berkembang sebelum dan setelah Rasulullah Saw. datang sebagai
teolog tulen, yang sekaligus juga meluruskan cara pandang seseorang terhadap
ajaran yang dibawanya (Islam) dari berbagai pengaruh yang mengotori keyakinan
(keimanan). Kisah Nabi Ibarhim a.s. di atas yang penulis kategorikan sebagai
kasus teologis, adalah bukti bahwa teologi mengarah pada pemapanan keyakinan
bahwa Tuhan Allah benar-benar ada dan dapat dibuktikan keberadaan-Nya secara
aqliyah.
Untuk di Indonesia, istilah teologi
Islam secara formal masuk ke dalam kurikulum pendidikan tinggi agama Islam
(IAIN – UIN) yaitu pada tahun 1973. Prof. Dr. H. Harun Nasution, almarhum
Rahimahullah, adalah tokoh dan orang pertama yang mengusulkannya[37]. Saat itu, Harun Nasution sebagai Rektor IAIN Jakarta
yang dijabatnya selama 11 tahun (1973 – 1984), kemudian menjadi Dekan Fakultas
Pascasarjana, banyak melahirkan magister dan doktor, yang tentu saja semuanya kenyang
dengan apa itu filsafat dan atau teologi Islam.
Sayangnya, teologi Islam atau ilmu
kalam yang sampai sekarang dan nanti Insya-Allah akan terus diperkenalkan atau
diajarkan di UIN atau IAIN dan perguruan tinggi Islam negeri atau swasta,
dengan buku referensi karya Harun Nasution atau yang lainnya, benar-benar masih
bersifat informatif, yang bisa ditempuh atau diketahui lewat membaca, dalam hal
ini membaca geografi atau sejarah hidup dan pemikiran para tokoh. Tidak perlu
heran jika kemudian sekarang ini banyak tokoh agama merasa lebih bangga dengan
predikat penganut Asy’ariyah atau ahlussunnah wal jama’ah. Mereka
tidak menyadari kalau predikat tersebut menandakan dirinya menjadi sebagai penumpang
teolog klasik.
Secara simantik, bahwa teologi
Islam dengan tauhid memang
beda, tetapi perbedaan ini, menurut ijtihad penulis yaitu Beti dalam
kurung beda tipis. Sedangkan
menurut Haji Muhammad Amien Rais, juga beda, tetapi keduanya tidak bisa
dipisahkan, karena saling melengkapi. Tauhid, kata Amien adalah tandhiful-Aqidah
atau penyucian aqidah, sedangkan teologi merupakan penjabaran atau penerjemahan
dan pengamalan dari tandhiful aqidah tersebut[38]. Karena itu, antara keduanya (tauhid dan teologi) bagi
umat Islam menganggap sama, tidak bisa dikatakan berbeda. Kalaupun memaksakan
akal sehat untuk membedakannya, itu hanya terletak pada bahasa. Teologi
menggunakan bahasa pasaran Yunani sedangkan Tauhid, jelas, memakai
bahasa gaul versi Arab.
K.H. Ahmad Azhar Basyir, M.A.,
Rahimahullah, tergolong tokoh (mantan Ketua PP Muhammadiyah) yang menilai tak
ada perbedaan. Beliau menempatkan istilah teologi kadang-kadang berada pada
posisi dalam kurung ketika dan setelah menyebut ilmu Ketuhanan atau ilmu
Kalam. Misalnya begini : ... Ilmu Agama tidak menilai mana agama yang benar
dan mana yang tidak benar. Yang menilai (kebenaran agama) adalah Ilmu Ketuhanan
(Teologi) dari tiap-tiap agama yang bersangkutan.[39]
[1] Dosen titak tetap UHAMKA dan UMT
Indonesia, anggota Madikdasmen PNF Pimpinan Pusat Muhammadiyah
[2] Lih. Dr. Jerald F. Dirk, Abraham the Frien of God
(terj. Satrio Wahono, Ibrahim Sang Sahabat Tuhan), Serambi Ilmu Semesta,
Jakarta, cet. I, 2004, hal. 24
[3] Bandingkan dengan, Karen Armstrong, Sejarah Tuhan –
Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen dan Islam
Selama 4.000 Tahun, (terj. Zaimul Am), Mizan, Bandung, cet. I, 2001, hal.
27 dst
[4] Bandingkan dengan Hasan Hanafi, Islamologi 1 – dari Teologi Klasik ke Anarkis,
(terj. Miftah Faqih), LkiS, Yogyakarta, cet.I, 2003, hal. 62-67
[5] Karen Armstrong,Op.Cit, hal. 67
[6] Ibid., hal. 70-74.
[7] Metode-metode filsafat berikut obyek kajiannya, dapat
dibaca pada Dr. Anton Bakker, Merode-metode Filsafat, Ghalia Indonesia,
Jakarta, 1986 (cet. II).
[8] Bandingkan pula dengan, Hasan Hanafi, Islamologi 2 –
Dari Rasionalisme ke Empirisme (terj. Miftah Faqih), LKiS, Yogyakarta, cet.
I., 2004, hal.113
[9] Kisah Ibrahim mencari dan menemukan Tuhan, digambarkan
dalam al-Qur’an surat al-An’am ayat 74-80.
[10] Bandingkan dengan, Sayyid Mahmud al-Qimni, Nabi
Ibrahim wa attarih al-Majhul (terj. K. As’ad Irsyady : Nabi Ibrahim –
Titik Tmu – Titik Tengkar Agama-agama), Lkis, Yogyakarta, cet. I, 2004,
hal. 5.
[11] Bandingkan dengan Prof. Dr. Harun Nasution, Falsafat
dan Mistisisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, cet.IX, 1995,
hal.11-13. Bandingkan pula dengan, Hasan Hanafi, Islamologi 2 – Dari
Rasionalisme ke Empirisme (terj. Miftah Faqih), LkiS, Yogyakarta, cet. I,
2004, hal. 59 dan 147.
[12] Dr. M. Yunan Yusuf, Op. Cit. hal. 1.
[13] Bandingkan dengan, Murtadha Muthahhari, Introduction
to Kalam (terj. Ilyas Hasan : Mengenal Ilmu Kalam, Cara Mudah Menembus
Kebuntuan Berpikir), Pustaka Zahra, Jakarta, cet. I, 2002, hal 18.
[14] Michael H. Hart, The 100, a Ranking of the Most
Influential Persons in History, (terj. H. Mahbub Djunaidi : Seratus
Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah), Pustaka Jaya, Jakarta, cet.
X, 1988, hal. 156.
[15] Ibid, hal. 413.
[16] Bandingkan dengan, Dr. Anton Bakker, Metode-metode
Filsafat, Ghalia Indonesia, Jakarta, cet. II, 1986, hal. 54-55.
[17] Bandingkan dengan Karen Armstrong, Op. Cit., hal.
446.
[18] Ibid. hal. 447 dst.
[19] Karen Armstrong, Op. Cit., hal. 144.
[20] Ibid, hal. 145.
[21] Lih. Dr. M. Yunan Yusuf, Alam Pikiran Islam –
Pemikiran Kalam, Perkasa, Jakarta, cet. I, 1990, hal. 3.
[22] Lih.Husayn Ahmad Amin, Al-Mi’ah al-A’dzam fi Tarikh
al-Islam (terj. Bahruddin Fannani : Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam),
Remaja Rosdakarya, Bandung, cet. I, 1995, hal.192-195. Bandingkan dengan, Dr.
Amsal Bakhtiar, M.A., Filsafat Agama, Logos Wacana Ilmu,
Ciputat-Jakarta, cet. II, 1999, hal. 17.
[23] Lih. Dr. Hamzah Ya’qub, Filsafat Agama, Titik Temu
Akal dengan Wahyu, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, cet. I. 1991, hal. 10. Lih.
pula, Nurcholish Madjid, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan, Mizan,
Bandung, cet. I, 1987, hal. 278, atau Amsal Bakhtiar, Op.Cit., hal. 16.
[24] Bandingkan dengan, Seyyed Hossein Nasr, Islamic
Spirituality Manifestation (terj. Tim Penerjemah Mizan; Ensiklopedi
Tematis Spiritualitas Islam Manifestasi), Mizan, Bandung, cet. I, 2003,
hal. 508,lihat pula Michael H. Hart, Op. Cit., hal. 143.
[25] Husayn Ahmad Amin, Op. Cit., hal 193.Bandingkan
dengan Muhammad Quthub, Jahiliyah al-Qarn al-‘Isyrin, (terj. Mohammad
Tohir dan Abu Laila : Jahiliyah Abad Dua Puluh – Mengapa Islam Dibenci?),
Mizan, Bandung, cet. III, 1989, hal. 30-43.
[26] Dr. Nico Syukur Dister, OFM., Pengantar Teologi,
Kanisius-BPK Gunung Mulia, Jakarta, cet. II, 1992, hal. 33.
[27] Ibid, hal. 38. Tentu, berbeda dengan ajaran pokok
teologi Islam, yang antara lain memperbincangkan tentang baik dan buruk, kafir
dan non-kafir. Lih. Dr. Hamzah Ya’qub, Op.Cit., atau Harun Nasution, Teologi
Islam... (Op.cit),
[28] Sularso Sopater (et.al.), Gereja dan Kontekstualisasi
– Seri Pembangunan Bangsa, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, cet. I, 1998,
hal. Pengantar.
[29] Dr. Eka Darmaputra (ed.), Konteks Berteologi di
Indonesia, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1988, hal. 9.
[30] Dr. Sularso Sopater, Upaya Berteologi dalam Konteks
Pancasila, dalam Weinata Sairin, M.Th. et.al. (ed.), Dialog Antar Umat
Beragama; Membangun Pilar-pilar Keindonesiaan yang Kukuh, BPK Gunung Mulia,
Jakarta, 1994, hal. 100 dst.
[31] Seyyed Hossein Nasr, Op.Cit..
[32] Bandingkan dengan Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Bulan
Bintang, UI Press, Jakarta, cet.I, 1983, hal.ix, atau Prof. Dr. Harun Nasution,
Falsafat Agama, Bulan Bintang, Jakarta, cet. VI, 1987, hal. 4 .
[33] Bandingkan dengan, Dr. Fauzan Saleh, Teologi Pembaruan
– Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX, PT Serambi Ilmu
Semesta, Jakarta, cet. I, 2004, hal. 36.
[34] Sebelum Syeikh Muhammad Abduh, tokoh di penghujung abad
ke-18 yang gigih dalam mengedepankan Tauhid (teologi) adalah Syeikh Muhammad
bin Abduh Wahhab (1703-1791) di Saudi, yang sedikit-banyaknya mempengaruhi
ketauhidan Syeikh Jamaluddin al-Afghani (1838-1897) dan Syeikh Muhammad Abduh
(1845-1905) di Mesir dan mengajarkannya melalui Universitas Al-Azhar.
Bandingkan dengan, Husayn Ahmad Amin, Op.
Cit. hal. 269, 293 dan 301.
[35] Tokoh dimaksud antara lain, Dr. Harun Nasution, beliau
menulis buku dengan judul Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah,
UI Press, Jakarta, cet.I, 1987. Bandingkan dengan, Dr. Suwito, Corak
Pemikiran Politik Muhammad Abduh, dalam Dirasah – Jurnal Kajian Ilmiah,
Universitas Muhammadiyah Jakarta, no. III/XI/1977, hal. 13.
[36] Seyyed Hussein Nasr, Op.Cit.
[37] Lih. Fuad Jabali dan Jamhari (penyunting), IAIN
Modernisasi Islam di Indonesia, Logos, Jakarta, cet.1, 2003, hal. 33.
[38] Bandingkan dengan, Dr. H. M. Amien Rais, Moralitas
Politik Muhammadiyah, Dinamika, Yogyakarta, cet. I, 1995, hal. 22-23
[39] K.H. Ahmad Azhar Basyir, M.A., Refleksi atas Persoalan
Keislaman – Seputar Filsafat, Hukum, Politik dan Ekonomi, Mizan, Bandung,
cet. I, 1993, hal. 234.
Komentar
Posting Komentar