WARTA PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH

Sejarah :

Dari Warta Pendidikan Muhammadiyah ke  HOLISTIKA dsn...

 

Sejak Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah masih bernama Mapendappu (Majelis Pendidikan dan Pengajaran Pusat),  pada dasarnya sudah memunyai media tulis, namanya Warta Pendidikan dengan motto: Media Komunikasi, Informasi dan Ilmu Pengetahuan.  Terbit pertama kali tahun 1971. Setahun kemudian, istilah “Warta” ditiadakan dan bentuknya ditingkatkan menjadi majalah Pendidikan, memperoleh izin terbit (SIT) dari Dirjen PG No. 1349/S.K/Dirjen PG/SIT/1972, dan Surat Izin Cetak (SIC) No. Kep. 008/PC/VII/VII/1972. Mapendappu kala itu dikomandani oleh almarhum H.S. Prodjokusumo Rahimahullah. Majalah ini terbit 4x setahun dan menyebar ke seluruh Indonesia dengan harga jual Rp 1.500,00/tahun,  atau Rp 375,00/eks. 

Majalah Pendidikan tersebut bertahan sampai tahun 1985, dan berikutnya Mapendappu dibelah menjadi dua sesuai keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-41;  yaitu (1) Majelis Pendidikan dan Kebudayaan (MPK), dan (2) Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan  Pengembangan (Madiktilitbang) yang secara khusus mengelola PTM dengan komandan berbeda, yang pertama dipimpin oleh Drs. H. Sutrisno Muhdam, M.M., yang kedua dipimpin oleh Drs. H. M. Djazman Alkindi. Keduanya sudah tiada; Allahummaghfir lahuma, warham huma. Amien.

Majelis Pendidikan dan Kebudayaan (MPK) yang dipimpin oleh almarhum Drs. H. Sutrisno Muhdam, M.M. rahimahullah, media tulis yang dipunyai (majalah Pendidikan) telah berubah; dari Pendidikan menjadi BERITA MPK dan pecahannya (Madiktilitbang) menerbitkan Warta PTM. Perkembangan selanjutnya, Berita MPK berubah lagi menjadi majalah PANDUAN, dengan rekomendasi dari Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama) Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, No. E/HM.02.1/J/681/90 tertanggal 22 Februari 1990

Periode 1990-1995, Majelis Pendidikan dan Kebudayaan (MPK) berubah nama, menjadi Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen). Ketuanya, bukan lagi almarhum Pak Tris (sapaan Sutrisno Muhdam Rahimahullah), tetapi almarhum Drs. H. Haiban Hs. Rahimahullah. Media tulis yang dimilikinya, namanya kembali ke asal tahun 1970-an, yaitu Warta Pendidikan. Pak Haiban (sapaan akrab almarhum) memilih Drs. Sudar Snd (kini: Drs. H. M. Sudar Siandes, M.M. rahimahullah) sebagai Redaktur Pelaksana, sedangkan almarhum sendiri sebagai penangung jawab.  Tokoh lain yang mengelola Warta Pendidikan periode (Pak Tris) ini yaitu antara lain Drs. H.M. Suwardi dan Drs. H. Husni Thoyar, M.Ag. (keduanya; almarhmantan Ketua PWM DKI Jakarta).

Periode 1995-2000 dan 2000-2005, kursi masinis Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah diduduki oleh kepercayaan PP Muhammadiyah; yaitu Prof. Dr. H. M. Yunan Yusuf, M.A. Media tulis yang dimiliki Majelis Dikdasmen periode ini, dilengkapi (berubah lagi), dari Warta Pendidikan menjadi Warta Pendidikan Muhammadiyah. Kelengkapan nama Warta Pendidikan, rupanya tidak selengkap hasratnya. Pada periode pertama (1995-2000), Warta Pendidikan Muhammadiyah hanya bisa terbit dua kali, dan untuk periode kedua (2000-2005) terbit dua kali rupanya sudah kebanyakan, jadi hanya terbit sekali saja.

Nasib media tulis atau media komunikasi Majelis Dikdasmen, dari periode ke periode tampaknya bukan meningkat melainkan malah justru makin menurun, lalu benar-benar turun, berikutnya tak ada lagi. Terbukti, pada periode kepemimpinan Majelis pasca-Yunan Yusuf, yaitu Prof. Dr. H. Yahya A. Muhaimin (2005-2010) benar-benar hilang yakni berita atau warta tidak diterbitkan lagi. Bukan tidak ada hasrat, tetapi justru kepenuhan hasrat, meluber (tumpah) dan menjalar ke mana-mana, sehingga media komunikasi Majelis Dikdasmen berubah wujud, dari media tulis menjadi media lisan. Ceramah atau menyampaikan langsung lewat lisan, lewat forum-forum, yang secara khusus pula majalah tengah bulanan Suara Muhammadiyah dan majalah bulanan Suara ‘Aisyiyah menjadi (mau tidak mau) media andalan. Almarhum harian umum REPUBLIKA kala itu ikut juga memberitakan kegiatan-kegiatan Majelis Dikdasmen seperti rapat, diskusi, seminar,, lokakarta,  dan yang sejenisnya. Media umum (koran atau majalah) tersebut dianggap lebih efektif daripada media terbitan majelis sendiri.

Dalam konteks mediologi, Pimpinan Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah periode 2010-2015, yang dipimpin oleh almarhum Prof. A Baedhowi, sesungguhnya telah menilai penting bagi Majelis Dikdasmen untuk memiliki media cetak tersendiri. Hanya saja, katanya, untuk memilikinya diperlukan imun yang bukan saja personalia melainkan juga aspek-aspek pendukungnya. Yang terakhir ini disadarinya masih sangat kurang dimiliki Madikdasmen.

Menurut almarhum, bahwa media cetak itu bukan hanya dimaksudkan sebagai media komunikasi, tetapi yang lebih penting lagi yaitu media pembinaan kependidikan dalam arti luas. Media dalam bentuk lisan, bukan tidak penting, tetapi kurang sempurna jika tidak didukung dengan tulisan (pers). Wahyu pertama yang menjadi landasan pentingnya sekolah yaitu Iqra bi Ismi Rabbika… sampai ‘Allama bi al-Qalam, adalah salah satu motivasi pentingnya media cetak. Lagi pula, bahwa budaya tulis-menulis di kalangan kader Muhammadiyah, khususnya para siswa dan para guru Muhammadiyah tampaknya masih sangat kurang. Sebegitu banyak jumlah media cetak (koran dan sejenisnya) di negeri ini, hampir pasti didandani dan diproduksi oleh tetangga. Apalagi kalau kita pergi dan masuk ke toko-toko buku. Yang terpajang di sana, puluhan bahkan ratusan ribu buku, bisa dipastikan mayoritas penulisnya bukan kader Muhammadiyah, yang isinya otomatis banyak yang berlawanan dengan teologi atau ideologi Muhammadiyah.

Saat itu, kehadiran HOLISTIKA adalah sebagai salah satu bentuk protes terhadap kondisi persuratkabaran dan perbukuan di kalangan umat Islam khususnya warga Persyarikatan.  Hanya saja, memang, hampir pasti penyebab utamanya masih sangat terasa yaitu persoalan sumberdaya yang masih sangat kurang Tidak heran jika kemudian pada masa kepemimpinan almarhum Baidhowi rahimahullah media khusus terbitan Majelis; Holistika hanya dapat terbit sebanyak 3 kali edisi/4 bulan, atau hanya sampai pada batas minimal untuk mensyukurinya.

Pada periode kedua almarhum rahimahullah, Holistika sebenarnya sudah beberapa kali akan dicetak-terbit dalam bentuk mirip Suara Muhammadiyah, tetapi kala itu gagasan dan bahkan program pengadaan EduMu berencana ada rubrik khusus untuk menampung gagasan atau opini kependidikan. Begitu pula kelahiran KontenMu, KreasiMu, dan lainnya, yang mungkin akan lahir dengan nama baru, seiring dengan kian dinamisnya jajaran/pimpinan Madikdasmen PNF Jadi sesungguhnya, kelahiran EduMu dan lainnya tadi dimaksudkan antara lain untuk mengganti (peran pentingnya) media cetak.  Fastabiiqul-khairat! (eNCehA) ***

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELACAK SEJARAH KELAHIRAN IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH (IMM)

Komitmen Muhammadiyah : DARUL-AHDI WAS SYAHADAH

GELIAT PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH DALAM MEMAJUKAN UMAT DAN BANGSA